💖 Dear Umar,
Hari itu aku
menatapmu dari lubang kunci kelas sebelah.
Kita memang
sekelas, tapi aku sengaja menyelinap ke kelas sebelah yang sedang kosong agar
bisa menatapmu dengan puas.
Kulihat kamu
sedang duduk diatas meja dengan penuh gaya. Santai dan berkharisma. Cool, calm,
and confident.
Teman-teman
berkerumun mengelilingimu. Kamu bak artis yang sedang jumpa fans.
Gelak tawa
sesekali terdengar dari kerumunan. Begitu riuh. Tapi, tawa renyah milikmu yang
terdengar sangat jelas di telingaku.
Cukup lama
aku memandangmu dari celah lubang kunci. Mengintip lebih tepatnya.
Siluet
tubuhmu begitu keren dimataku. Rambut bersemu merah yang tergerai dibelah dua.
Dada bidang yang kokoh. Mata sipit, yang saat kau tertawa akan terpejam
sempurna. Kumis tipis charlie chaplin dibawah bibir. Senyum manis yang sangat
mahal. Dan tatapan mata itu.
Penampakan
fisikmu mungkin berbeda dengan khalifah Umar yang pernah aku dengar dari guru
ngajiku. Tapi sifat kepemimpinanmu. Aku bisa melihatnya dengan mudah. Suatu
saat nanti pasti kau akan jadi boss. Oh, bukan. Leader. Jadi seorang leader.
Mungkin di tempat kamu kerja nanti. Aku jamin itu pasti terjadi.
Akh, Umar!
Andai kau
tau.
Jantungku
berdegup kencang saat kau tersenyum padaku.
Hatiku
berdesir saat kau menatapku.
Bahkan temanku
yang naksir sama kamu pernah bilang tatapan kamu hanya untukku.
Jadi dia
nyerah aja. Percuma katanya. Tatapan itu hanya untukku.
Maaf kan aku
ya Robb. Virus merah jambu sedang menyerangku tanpa ampun.
Mohon
jagalah aku selalu.
***
Fitri
membungkuk, memungut kertas yang terjatuh dari selipan buku diary coklat
miliknya.
Buku diary
hadiah dari mama saat ia merayakan ulang tahun ke-17. Sweet seventeen.
Sebuah foto.
Foto seorang remaja berambut semu merah, bermata sipit, tanpa senyum diwajah.
Fitri menatap
foto itu. Senyum tipis merekah dibibirnya.
Suara
klakson membuyarkan lamunannya.
“Dah,
selesai princess?”
“Kondean ya,
lama banget!”
Terdengar suara bariton dari pelataran.
"Kondean apanya? emangnya aku gak pake hijab?" Balas Fitri
"Haha...."
"Akh, tawa renyah itu..aku selalu rindu tawa renyah itu", batin Fitri.
“Tar gak
boleh masuk lho sama si Mister!”, suara bariton itu terdengar lagi.
“I’m
coming!”, jawab Fitri.
Fitri
berlari turun dari lantai 2 kamar kost nya.
Dari balik
tirai tampak jelas siluet sahabat baiknya sedang duduk penuh gaya. Santai dan
berkharisma. Sahabat baik Fitri. Umar.
***
***
Lands of hopes, 20122017
Miss Mary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar