Rabu, 20 Desember 2017

Surat Cinta Untuk Umar 💖

💖 Dear Umar,

Hari itu aku menatapmu dari lubang kunci kelas sebelah.
Kita memang sekelas, tapi aku sengaja menyelinap ke kelas sebelah yang sedang kosong agar bisa menatapmu dengan puas.

Kulihat kamu sedang duduk diatas meja dengan penuh gaya. Santai dan berkharisma. Cool, calm, and confident.
Teman-teman berkerumun mengelilingimu. Kamu bak artis yang sedang jumpa fans.
Gelak tawa sesekali terdengar dari kerumunan. Begitu riuh. Tapi, tawa renyah milikmu yang terdengar sangat jelas di telingaku.

Cukup lama aku memandangmu dari celah lubang kunci. Mengintip lebih tepatnya.
Siluet tubuhmu begitu keren dimataku. Rambut bersemu merah yang tergerai dibelah dua. Dada bidang yang kokoh. Mata sipit, yang saat kau tertawa akan terpejam sempurna. Kumis tipis charlie chaplin dibawah bibir. Senyum manis yang sangat mahal. Dan tatapan mata itu.

Penampakan fisikmu mungkin berbeda dengan khalifah Umar yang pernah aku dengar dari guru ngajiku. Tapi sifat kepemimpinanmu. Aku bisa melihatnya dengan mudah. Suatu saat nanti pasti kau akan jadi boss. Oh, bukan. Leader. Jadi seorang leader. Mungkin di tempat kamu kerja nanti. Aku jamin itu pasti terjadi.

Akh, Umar!
Andai kau tau.
Jantungku berdegup kencang saat kau tersenyum padaku.
Hatiku berdesir saat kau menatapku.
Bahkan temanku yang naksir sama kamu pernah bilang tatapan kamu hanya untukku.
Jadi dia nyerah aja. Percuma katanya. Tatapan itu hanya untukku.

Maaf kan aku ya Robb. Virus merah jambu sedang menyerangku tanpa ampun.
Mohon jagalah aku selalu.

***
Fitri membungkuk, memungut kertas yang terjatuh dari selipan buku diary coklat miliknya.
Buku diary hadiah dari mama saat ia merayakan ulang tahun ke-17. Sweet seventeen.

Sebuah foto. Foto seorang remaja berambut semu merah, bermata sipit, tanpa senyum diwajah.
Fitri menatap foto itu. Senyum tipis merekah dibibirnya.

Suara klakson membuyarkan lamunannya.
“Dah, selesai princess?”
“Kondean ya, lama banget!”
Terdengar suara bariton dari pelataran.

"Kondean apanya? emangnya aku gak pake hijab?" Balas Fitri

"Haha...."

"Akh, tawa renyah itu..aku selalu rindu tawa renyah itu", batin Fitri.

“Tar gak boleh masuk lho sama si Mister!”, suara bariton itu terdengar lagi.
“I’m coming!”, jawab Fitri.

Fitri berlari turun dari lantai 2 kamar kost nya.
Dari balik tirai tampak jelas siluet sahabat baiknya sedang duduk penuh gaya. Santai dan berkharisma. Sahabat baik Fitri. Umar.

***

Lands of hopes, 20122017

Miss Mary



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aku benci angka 3

WOY! Bisa gak kalo aku hapus setiap angka 3 dikalender? Aku benci tanggal 3. Aku benci angka 3. Sering banget jadi juara 3. Ngenes. Uda...