Jumat, 05 Januari 2018

Extraordinary 1

Pagi itu ratusan orang berkumpul di sebuah gerbang pondok pesantren. Memang sudah lumrah, pada waktu-waktu tertentu, gerbang itu akan penuh dengan antrian motor, mobil, dan bus. Orang-orang hilir mudik, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cuaca yang sangat panas, sinar matahari yang menyengat, tak menyurutkan niat mereka untuk menyelesaikan urusannya.
Tapi pagi itu ada sesuatu yang tak biasa. Saat kumandang adzan terdengar mengalun dengan indah. Kulihat pemandangan yang sangat kontras. Duduk dibawah pohon randu diseberang gerbang itu, beralaskan koran bekas aku menjadi saksi hidup. Melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan kedua telinga ini. Merasakan dengan seluruh jiwa.
Sungguh pemandangan yang sangat kontras. 1:4. Satu berbanding empat. 116 guru membentuk shaf untuk melaksanakan sholat Jumat. Sementara itu hampir 400 orang berdiri berbaris membentuk 4 lapisan. Bagaikan serdadu yang siap berperang. Dan kedua kubu itu hanya dipisahkan oleh rantai besi yang menjuntai sebagai pembatas.
Debu-debu berterbangan, aspal mengepul membentuk fatamorgana, asap knalpot tak henti menyembur. Keringat bercucuran. Panas, Gerah. Tapi tak sepanas mata sembabku yang menahan air mata. Tak segerah hatiku yang menahan amarah. Tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kami yang dulu bersaudara, berjuang bersama membesarkan Islam. Bahu membahu mendidik anak-anak bangsa. Generasi penerus. Harapan untuk masa depan yang lebih baik. Harapan untuk kejayaan Islam. Kini kami dipisahkan oleh rantai besi yang menjuntai. Aneh tapi nyata. Saat saudaranya menunaikan shalat Jumat. Mereka hanya berdiri menonton. Bukankah sholat Jum’at itu hukumnya wajib untuk seorang muslim laki-laki?
Ajakan untuk sholat Jum’at berjamaah tak mereka hiraukan. Mereka tak bergeming, hanya berdiri mematung. Bak robot yang telah diprogram. Tak punya akal, tak punya hati. Ada kalimat yang sempet terdengar, kami hanya melaksanakan tugas. Sungguh ironis.
Mereka berdatangan dari penjuru negeri untuk melaksanakan tugas, menghalau saudara mereka untuk masuk. Masuk ke tempat yang selama belasan tahun menjadi medan laga untuk saudaranya. Berjibaku dengan segala persoalan yang ada. Saudara yang mereka halau untuk masuk. Saudara yang ingin melaksanakan shalat Jumat di rumah Allah, seperti yang biasa mereka lakukan.
Apa yang terjadi? Sungguh aku tak mengerti. Sahabat-sahabatku terlihat khusuk melaksanakan sholat Jum’at dua rakaat. Dua khutbah menjadi khutbah terindah sepanjang hidupku.
Sementara kalian? Hanya berdiri menonton dengan dalih melaksanakan tugas. Jendral mana yang memberikan tugas dungu super tolol kepada empat ratus orang muslim laki-laki untuk meninggalkan sholat Jum’at dan hanya berdiri menonton.
Tahukah kalian? Saudaramu yang kau halau itu adalah guru. Seorang pendidik. Mereka hanya bersenjatakan sebuah pena. Bukan bambu runcing terhunus atau pistol ditangan. Perlukah menghadirkan 400 orang untuk melarang mereka sholat Jumat di mesjid?
Tahukah kalian? Mereka adalah orang-orang hebat, penuh dedikasi dan berkomitmen tinggi. Mengajar dengan hati. Menjadi guru qolbu.
Tahukah kalian? Mereka memutar otak lebih keras untuk tetap ikhlas mengabdi. Mencerdaskan anak negeri. Dan anak-anak yang mereka didik itu tidak lain dan tidak bukan adalah anak-anak kalian sendiri.
Tahukah kalian? Tidak sedikit dari saudaramu itu yang menjadi pekerja multifungsi. Demi terjaganya komitmen dan tanggung jawab mendidik putra-putrimu dan demi kelangsungan hidup keluarganya.
Tahukah kalian jalan cerita yang sebenarnya terjadi?
Angin apakah gerangan yang dihembuskan kepada kalian sehingga tega menjadi tameng kekuasaan rakus untuk menjaga kedigjayaan kerajaan keluarga?
Sungguh aku tak mengerti!

Benar-benar tak mengerti.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aku benci angka 3

WOY! Bisa gak kalo aku hapus setiap angka 3 dikalender? Aku benci tanggal 3. Aku benci angka 3. Sering banget jadi juara 3. Ngenes. Uda...