Pagi itu ratusan orang berkumpul di
sebuah gerbang pondok pesantren. Memang sudah lumrah, pada waktu-waktu tertentu,
gerbang itu akan penuh dengan antrian motor, mobil, dan bus. Orang-orang hilir
mudik, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cuaca yang sangat panas, sinar
matahari yang menyengat, tak menyurutkan niat mereka untuk menyelesaikan
urusannya.
Tapi pagi itu ada sesuatu yang tak
biasa. Saat kumandang adzan terdengar mengalun dengan indah. Kulihat
pemandangan yang sangat kontras. Duduk dibawah pohon randu diseberang gerbang
itu, beralaskan koran bekas aku menjadi saksi hidup. Melihat dengan mata kepala
sendiri, mendengar dengan kedua telinga ini. Merasakan dengan seluruh jiwa.
Sungguh pemandangan yang sangat kontras.
1:4. Satu berbanding empat. 116 guru membentuk shaf untuk melaksanakan sholat
Jumat. Sementara itu hampir 400 orang berdiri berbaris membentuk 4 lapisan.
Bagaikan serdadu yang siap berperang. Dan kedua kubu itu hanya dipisahkan oleh
rantai besi yang menjuntai sebagai pembatas.
Debu-debu berterbangan, aspal mengepul
membentuk fatamorgana, asap knalpot tak henti menyembur. Keringat bercucuran. Panas,
Gerah. Tapi tak sepanas mata sembabku yang menahan air mata. Tak segerah hatiku
yang menahan amarah. Tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kami yang dulu bersaudara, berjuang
bersama membesarkan Islam. Bahu membahu mendidik anak-anak bangsa. Generasi
penerus. Harapan untuk masa depan yang lebih baik. Harapan untuk kejayaan
Islam. Kini kami dipisahkan oleh rantai besi yang menjuntai. Aneh tapi nyata.
Saat saudaranya menunaikan shalat Jumat. Mereka hanya berdiri menonton.
Bukankah sholat Jum’at itu hukumnya wajib untuk seorang muslim laki-laki?
Ajakan untuk sholat Jum’at berjamaah tak
mereka hiraukan. Mereka tak bergeming, hanya berdiri mematung. Bak robot yang
telah diprogram. Tak punya akal, tak punya hati. Ada kalimat yang sempet
terdengar, kami hanya melaksanakan tugas. Sungguh ironis.
Mereka berdatangan dari penjuru negeri
untuk melaksanakan tugas, menghalau saudara mereka untuk masuk. Masuk ke tempat
yang selama belasan tahun menjadi medan laga untuk saudaranya. Berjibaku dengan
segala persoalan yang ada. Saudara yang mereka halau untuk masuk. Saudara yang
ingin melaksanakan shalat Jumat di rumah Allah, seperti yang biasa mereka
lakukan.
Apa yang terjadi? Sungguh aku tak
mengerti. Sahabat-sahabatku terlihat khusuk melaksanakan sholat Jum’at dua
rakaat. Dua khutbah menjadi khutbah terindah sepanjang hidupku.
Sementara kalian? Hanya berdiri menonton
dengan dalih melaksanakan tugas. Jendral mana yang memberikan tugas dungu super
tolol kepada empat ratus orang muslim laki-laki untuk meninggalkan sholat
Jum’at dan hanya berdiri menonton.
Tahukah kalian? Saudaramu yang kau halau
itu adalah guru. Seorang pendidik. Mereka hanya bersenjatakan sebuah pena.
Bukan bambu runcing terhunus atau pistol ditangan. Perlukah menghadirkan 400
orang untuk melarang mereka sholat Jumat di mesjid?
Tahukah kalian? Mereka adalah orang-orang
hebat, penuh dedikasi dan berkomitmen tinggi. Mengajar dengan hati. Menjadi
guru qolbu.
Tahukah kalian? Mereka memutar otak
lebih keras untuk tetap ikhlas mengabdi. Mencerdaskan anak negeri. Dan
anak-anak yang mereka didik itu tidak lain dan tidak bukan adalah anak-anak
kalian sendiri.
Tahukah kalian? Tidak sedikit dari
saudaramu itu yang menjadi pekerja multifungsi. Demi terjaganya komitmen dan
tanggung jawab mendidik putra-putrimu dan demi kelangsungan hidup keluarganya.
Tahukah kalian jalan cerita yang
sebenarnya terjadi?
Angin apakah gerangan yang dihembuskan
kepada kalian sehingga tega menjadi tameng kekuasaan rakus untuk menjaga
kedigjayaan kerajaan keluarga?
Sungguh aku tak mengerti!
Benar-benar tak mengerti.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar