Pagi buta seperti biasa aku sudah menunggangi motor bebek
merah kesayanganku. Melaju di jalanan aspal yang rusak parah, lubang menganga,
genangan air dan lumpur sepanjang jalan.
Sengaja kulaju dengan sangat pelan. Aku ingin menikmati pagi
terakhir di tempat ini.
Disisi kanan jalan, sejumlah petani sedang berbaris memasang
ancang-ancang dengan padi ditangan. Sementara dipetakan sawah yang lain,
seorang petani asyik mengemudikan traktornya untuk membajak sawah.
Dan jauh dibelakang mereka nampak sebuah kubah masjid dan
menara menjadi latar belakang.
Masjid itu bernama masjid Rahmatan lil alamin dan menara itu
bernama menara Perdamaian.
Sudah hampir satu tahun aku tidak menginjakkan kakiku
disana. Aku tertahan dipintu gerbang. Tak kan pernah bisa masuk, mungkin untuk
selamanya. Ada yang bilang, gambar wajahku terpampang bersama wajah 115 orang
sahabatku. Wajah-wajah yang diharamkan untuk memasuki komplek itu. Alasannya
pun tak jelas. Political Issue. Tak pernah aku mendapatkan penjelasan yang bisa
dipertanggungjawabkan.
Terlepas dari soal political issue yang memuakkan itu. Aku
sekarang merasa hidupku lebih bahagia. Entah mengapa. I feel like a bird, so
free to soar above the sky. I can be my self. Aku bisa memaksimalkan dan mengoptimalkan
sisi terbaik dalam diriku. Biarlah political issue itu dibahas, didiskusikan
dan entah diapakan oleh orang-orang yang hobby saja. Aku sih lebih memilih
memanfaatkan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat. Reveal my hidden talent for
example.
Akh, tapi, tentu saja, suatu saat aku akan merindukan tempat
itu. I will miss that place one day. Udara segar yang bisa kuhirup dengan
bebas. Deretan pohon jati. Gedung pembelajaran. Asrama putra dan putri. Dan
satu hal yang susah kudapat ditempat lain di seluruh penjuru Indonesia adalah
kawasan bebas rokok. Tak sejengkalpun ditanah itu yang bisa dijadikan tempat
untuk merokok. Ya, kecuali santri yang nekat curi-curi. Itupun perlu nyali
besar dan konsekwensi dikeluarkan dari pondok.
Aku juga akan rindu pada sahabat-sabahatku yang terbelah
menjadi dua kubu. Insider and outsider. Jadi teringat politik devide et impera.
Bisa jadi kami ini memang diadu domba biar terpecah belah sehingga tidak ada
kekuatan. Bak buih dilautan. Banyak, tapi tak ada artinya. Akh, males ngomongin
politik.
Aku juga akan rindu pada wajah-wajah polos dan sinar dari
binar mata murid-muridku. Lengkap dengan tingkah laku mereka. Karakter yang
beragam. Itulah yang membuat hidupku lebih berwarna. My students are my
happiness. Doa tulusku untuk kalian semua.
Aku sudah pasti rindu nasi kuning dan nasi uduk menu favorit
keluarga di pagi hari. Yang bisa kubeli dengan uang satu lembar bertuliskan dua
kosong kosong kosong. Iya, bener. Nasi sebungkus lengkap dengan mie, oreg tempe
dan kerupuk plus sambel hanya 2000 Rupiah.
But life goes on. Waktu terus berjalan. Bumi terus berputar.
Dimanapun aku berada, kan kupersembahkan yang terbaik. Just
do the best, share goodness and keep shining.
Lands of hopes, 05-01-2018
Miss Mary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar