(Lanjutan...)
Miss review sebentar ya,
Jadi gini, liburan kemarin Miss and family memutuskan untuk
memilih Monas sebagai destinasi wisata liburan kali ini. Judulnya wisata
edukasi, pake gaya backpaker. Boncengan motor, naik KRL, plus pake bajay. Seru
abis pokoknya.
Di Monas ada kereta wara-wiri gratis untuk mengantar
pengunjung dari gerbang menuju monumen. Tiket masuk sangat-sangat terjangkau.
20 ribu rupiah per orang. Kita bisa selfie and wefie di patung-patung gaya
kerajaan. Kita bisa melihat puluhan diorama yang terpajang di basement. Tapi
sayang ruangan Kemerdekaan tutup. Padahal Miss pengen banget lihat dengan mata
kepala sendiri dan denger pake kuping sendiri saat Presiden Sukarno
mengumandangkan Proklamasi. Yah, apa boleh buat, bukan rezeqinya Miss.
Kalau Miss boleh menyimpulkan, kemerdekaan Indonesia bisa
dicapai tak luput dari peran pendidikan. Mulai dari peran pesantren, Taman
Siswa, Muhammadiyah, Boedi Utomo, Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan yang
diusung oleh RA Kartini, dan banyak lagi deh. Kamu bisa lihat diorama itu
mengisahkan dengan jelas peran pendidikan untuk kemerdekaan. Miss merasa ikut
bangga karena menjadi bagian dari pendidik. I’m a teacher and I’m proud of it.
Satu lagi, moment yang paling ditunggu-tunggu oleh
pengunjung adalah: Naik LIFT ke puncak Monas. Bener ternyata kata si Mba yang
duduk disebelah Miss waktu di kereta wara-wiri. Kita harus extra sabar nunggu
antrian. Miss and the gank baru keluar dari basement, dan..trala...
What a queue! Gila bener! Antrinya panjaaaaaang!!!
Ibu-ibu, bapak-bapak, semua yang ada disini (eh, malah
nyanyi dangdut), tua, muda, anak-anak, remaja, separuh baya, bahkan manula.
Semuanya ada disini. Bercampur baur sama orang India yang pake sari, orang bule
yang pake tank top and short. What a scienery!
Ragu sebenernya mau approach antrian itu. Tapi Miss
membulatkan tekad. Gak lengkap rasanya kalo berkunjung ke Monas tanpa naik ke
puncak monumen. Gua jabanin dah!
Serius! Nunggu antriannya kurang lebih 3 jam. Coba kalo Miss
pake stop watch ya. Waktunya bisa akurat. Sambil menunggu. Benak Miss gak diam
ditempat. Secara, Miss terkenal kreatif dan punya empati yang tinggi, eeeaaa.
Waktunya menebar KRISAN.
Faham kan KRISAN itu apa? Bukan nama bunga ya, tapi
singkatan dari KRItik dan SarAN.
Miss mau bahas sisi empati dulu. Inih gimana ceritanya kalo
hujan ya. Tempat antri itu terbuka. Cuma ada garis pembatas di depan pintu
sekitar 10m. Saat itu cuaca sedang cerah. Matahari menyengat. Angin bertiup
kencang. Panas, gerah, masuk angin. Bayi nangis. Nenek-nenek kepayahan.
Abang-abang gelisah. ABG bete. Terus, gak kebayang kalo hujan. Bubar jalan
kali! Apa emang kalo hujan Monasnya tutup ya? Entahlah Miss gak sempet nanya
sama petugas.
Gak kepikiran apa ya? Bikin kanopi biar teduh dan terlindung
dari hujan. Sediain tempat duduk khusus buat moms with infant, elderly, and
difable. Halaah..Emang ada undang-undang yang melarang bikin kanopi di Monas.
Miss gak sempet nanya juga tuh.
Sekarang Miss bahas sisi kreatifnya. Miss berkhayal, di
tempat antri itu, selain ada kanopi dan special seats, ada juga fasilitas lain.
Misalnya, wifi gratis, colokan listrik kayak di train station tuh, atau pojok
baca alias mini library. Kan enak tuh sambil nunggu sambil eksis di medsos, or
chat and googling hal-hal yang bermanfaat. Lebih enak lagi nunggu sambil baca.
Novel terbaru, magazine, newspaper. Dijamin nunggunya gak akan terasa. Bisa
juga sih bawa buku sendiri, tapikan lebih cihuy kalo bukunya disediain. Ya,
gak?
Udah dulu ah menebar KRISAN nya. Kalo kamu punya ide yang
lebih ajib. Silahkan tulis di komen ya. Terima kasih.
Lands of hopes, 03-01-2018
Miss Mary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar