Rabu, 03 Januari 2018

🗼Oleh-oleh liburan; Jalan-jalan ke Monas (Part2) 🗽

(Lanjutan...)
Miss review sebentar ya,

Jadi gini, liburan kemarin Miss and family memutuskan untuk memilih Monas sebagai destinasi wisata liburan kali ini. Judulnya wisata edukasi, pake gaya backpaker. Boncengan motor, naik KRL, plus pake bajay. Seru abis pokoknya.

Di Monas ada kereta wara-wiri gratis untuk mengantar pengunjung dari gerbang menuju monumen. Tiket masuk sangat-sangat terjangkau. 20 ribu rupiah per orang. Kita bisa selfie and wefie di patung-patung gaya kerajaan. Kita bisa melihat puluhan diorama yang terpajang di basement. Tapi sayang ruangan Kemerdekaan tutup. Padahal Miss pengen banget lihat dengan mata kepala sendiri dan denger pake kuping sendiri saat Presiden Sukarno mengumandangkan Proklamasi. Yah, apa boleh buat, bukan rezeqinya Miss.

Kalau Miss boleh menyimpulkan, kemerdekaan Indonesia bisa dicapai tak luput dari peran pendidikan. Mulai dari peran pesantren, Taman Siswa, Muhammadiyah, Boedi Utomo, Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan yang diusung oleh RA Kartini, dan banyak lagi deh. Kamu bisa lihat diorama itu mengisahkan dengan jelas peran pendidikan untuk kemerdekaan. Miss merasa ikut bangga karena menjadi bagian dari pendidik. I’m a teacher and I’m proud of it.

Satu lagi, moment yang paling ditunggu-tunggu oleh pengunjung adalah: Naik LIFT ke puncak Monas. Bener ternyata kata si Mba yang duduk disebelah Miss waktu di kereta wara-wiri. Kita harus extra sabar nunggu antrian. Miss and the gank baru keluar dari basement, dan..trala...

What a queue! Gila bener! Antrinya panjaaaaaang!!!
Ibu-ibu, bapak-bapak, semua yang ada disini (eh, malah nyanyi dangdut), tua, muda, anak-anak, remaja, separuh baya, bahkan manula. Semuanya ada disini. Bercampur baur sama orang India yang pake sari, orang bule yang pake tank top and short. What a scienery!

Ragu sebenernya mau approach antrian itu. Tapi Miss membulatkan tekad. Gak lengkap rasanya kalo berkunjung ke Monas tanpa naik ke puncak monumen. Gua jabanin dah!

Serius! Nunggu antriannya kurang lebih 3 jam. Coba kalo Miss pake stop watch ya. Waktunya bisa akurat. Sambil menunggu. Benak Miss gak diam ditempat. Secara, Miss terkenal kreatif dan punya empati yang tinggi, eeeaaa.

Waktunya menebar KRISAN.

Faham kan KRISAN itu apa? Bukan nama bunga ya, tapi singkatan dari KRItik dan SarAN.

Miss mau bahas sisi empati dulu. Inih gimana ceritanya kalo hujan ya. Tempat antri itu terbuka. Cuma ada garis pembatas di depan pintu sekitar 10m. Saat itu cuaca sedang cerah. Matahari menyengat. Angin bertiup kencang. Panas, gerah, masuk angin. Bayi nangis. Nenek-nenek kepayahan. Abang-abang gelisah. ABG bete. Terus, gak kebayang kalo hujan. Bubar jalan kali! Apa emang kalo hujan Monasnya tutup ya? Entahlah Miss gak sempet nanya sama petugas.

Gak kepikiran apa ya? Bikin kanopi biar teduh dan terlindung dari hujan. Sediain tempat duduk khusus buat moms with infant, elderly, and difable. Halaah..Emang ada undang-undang yang melarang bikin kanopi di Monas. Miss gak sempet nanya juga tuh.

Sekarang Miss bahas sisi kreatifnya. Miss berkhayal, di tempat antri itu, selain ada kanopi dan special seats, ada juga fasilitas lain. Misalnya, wifi gratis, colokan listrik kayak di train station tuh, atau pojok baca alias mini library. Kan enak tuh sambil nunggu sambil eksis di medsos, or chat and googling hal-hal yang bermanfaat. Lebih enak lagi nunggu sambil baca. Novel terbaru, magazine, newspaper. Dijamin nunggunya gak akan terasa. Bisa juga sih bawa buku sendiri, tapikan lebih cihuy kalo bukunya disediain. Ya, gak?

Udah dulu ah menebar KRISAN nya. Kalo kamu punya ide yang lebih ajib. Silahkan tulis di komen ya. Terima kasih.

Lands of hopes, 03-01-2018

Miss Mary




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aku benci angka 3

WOY! Bisa gak kalo aku hapus setiap angka 3 dikalender? Aku benci tanggal 3. Aku benci angka 3. Sering banget jadi juara 3. Ngenes. Uda...